Blog Pribadi Penuh Inspirasi, dengan sentuhan kreasi dan imajinasi menjadi seni yang bisa dinikmati
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 November 2016
Kamis, 10 November 2016
PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum
Secara etimologi, kurikulum berasal
dari bahasa Yunani, yaitu currir yang berarti berlari dan curere yang berarti tempat berpacu. Dengan
demikian, istilah kurikulum berasal
dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung
pengertian jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai finish (Sudirman,et. Al., 1987:9)
Kurikulum
kemudian dibawa ke dalam dunia pendidikan dan diartikan sebagai seperangkat
materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai tujuan
pendidikan yang akan dicapai.[1]Dalam arti sempit kurikulum diartikan sebagai rencana pelajaran. Hilda Taba
dalam bukunya Curiculum development, theory and practice mengartikan
kurikulum sebagai a plan for learning yaitu sesuatu yang direncanakan
untuk dipelajari oleh anak.
Kurikulum
merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi
yang dibakukan dan
cara pencapaiannya disesuaikan
dengan keadaan
dan kemampuan daerah. Kompetensi
perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Kurikulum dilaksanakan dalam
rangka membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik
yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik,
kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.
McNeil, John. 1985. Curriculum, A Comprehensive Introduction.
Boston: Little, Brown and Company.
Definisi kurikulum dalam arti luas dengan beberapa penekanannya sebagai
berikut:
1.
J. Galen
Saylor dan William M. Alexander (1956)
Kurikulum adalah semua usaha sekolah untuk mempengaruhi siswa itu belajar,
apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah.
2.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (SISDIKNAS)
menyebutkan bahwa Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.
3.
Nana Syaodih
Sukmadinata (1997)
Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup
kelas, sekolah, daerah, wilayah, maupun nasional.
B. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum di Indonesia mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam masyarakat. Kurikulum disusun
oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat
pendidikan serta unsur-unsur masyarakat lainya. Rencana ini disusun dengan
maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses
pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan seleh
siswa itu sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Dalam proses
pengembangan kurikulum, suatu hal lain yang tidak dapat diabaikan adalah
pentingnya memahami prinsip-prinsip yang
digunakan. Dalam hal ini, Nana
Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum :
relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, efisiensi, dan efektivitas; (2)
prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip
berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan
proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat
pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian :
Selengkapnya bisa di download di :
Materi : Prinsip Pengembangan Kurikulum
DOWNLOAD
Selengkapnya bisa di download di :
Materi : Prinsip Pengembangan Kurikulum
DOWNLOAD
Senin, 31 Oktober 2016
KEPRIBADIAN GURU : SOSIOLOGI PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Salah satu penyebab rendahnya moral/ akhlak generasi saat ini
adalah rendahnya moral para guru dan orang tua. Kecenderungan tugas guru hanya
mentransfer ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan nilai- nilai moral yang terkandung
dalam ilmu pengetahuan tersebut, apalagi kondisi pembelajaran saat ini sangat
berorientasi pada perolehan angka- angka sebagai standarisasi kualitas
pendidikan.
Setiap orang yang pernah sekolah, pastilah berhubungan dengan guru
dan mempunyai gambaran tentang kepribadian guru. Walaupun gambaran tentang guru
tidak lengkap dan mungkin tidak benar seluruhnya, namun orang akan berinteraksi
dengan guru.
Guru adalah pribadi yang menentukan maju atau tidaknya sebuah
bangsa dan peradaban manusia. Ditangannya, seorang anak yang awalnya tidak tahu
apa- apa menjadi pribadi jenius. Melalui sentuhannyalah, lahir generasi-
generasi unggul. Maka dari itu, di dalam makalah ini akan dibahas tentang
kepribadian guru.
B.
Rumusan Masalah
Sesuai latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah di
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
a.
Apa yang
dimaksud dengan kepribadian guru?
b.
Bagaimana
perkembangan kepribadian guru?
c.
Apa saja ciri-
ciri stereotip guru?
C.
Tujuan
Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan
pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
a.
Untuk
mengetahui apa pengertian kepribadian guru.
b.
Untuk
mengetahui perkembangan kepribadian guru.
c.
Untuk
mengetahui ciri- ciri stereotip guru.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kepribadian Guru
Menurut Gordon W. Allport,
kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem
psiko-motorik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri
terhadap lingkungannya. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan
penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya
mengatasi kebutuhan- kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi
dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut
dengan tuntunan (norma) lingkungan”. Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa
kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan
individu lainnya.[1]
kepribadian guru seperti halnya
kepribadian individu pada umumnya terdiri dari aspek jasmaniyah, intelektual,
sosial, emosional dan moral. Pembentukan
pribadi guru dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari lingkungan keluarganya,
sekolahnya tempat dulu ia belajar, masyarakat sekitar serta kondisi situasi
sekolah dimana ia bekerja. Untuk dapat melakukan peranan dan melaksanakan tugas
serta terdapatnya guru memerlukan syarat tertentu, yaitu :(a) Guru harus
memiliki kemampuan profesional; (b) Guru harus memiliki kemampuan intelektual;
(c) Guru harus memiliki sifat edukasi. Dari
syarat – syarat tersebutlah yang dapat membedakan guru dengan manusia lainnya. Untuk
menjadi seorang guru, juga dituntut kedewasaan dan kematangan, karena seperti
yang kita ketahui bahwa anak didik ataupun siswa diibaratkan sebagai kelompok
yang belum dewasa. Sementara guru atau pendidik dipandang sebagai manusia yang
telah dewasa.
Kepribadian guru sangat mempengaruhi
perannya sebagai pendidik dan pembimbing. Guru mendidik dan membimbing para
siswanya tidak hanya dengan bahan yang dia sampaikan atau metode- metode
penyampaian yang sesungguhnya, tetapi dengan seluruh kepribadiannya. Mendidik
dan membimbing tidak hanya terjadi dalam interaksi formal, tetapi juga
interaksi informal, tidak hanya diajarkan, tetapi juga ditularkan. Pribadi guru
merupakan suatu kesatuan antara sifat- sifat pribadinya dan peranannya sebagai
pendidik, pengajar dan pembimbing.[2]
B.
Perkembangan
Pribadi Guru
Kepribadian sesungguhnya adalah
suatu yang abstrak, sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat
diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala aspek kehidupan.
Misalnya dalam tindakan, Ucapan, caranya bergaul, berpakaian, dan dalam
menhadapi persoalan atau masalah.
Ada 3 faktor yang menentukan dalam
perkembangan kepribadian :
a.
Faktor bawaan:
Unsur
ini terdiri dari bawaan genetic yang menentukan diri fisik primer (warna kulit,
mata dll) selain itu juga kecenderungan – kecenderungan dasar misalnya kepekaan
dan penyesuaian diri.
b.
Faktor
lingkungan
Faktor
lingkungan seperti sekolah, atau lingkungan sosial/ budaya seperti teman, guru
dan lain- lain dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian.
c.
Interaksi
bawaan dan lingkungan
Interaksi
yang terus menerus antara bawaan dan lingkungan menyebabkan timbulnya perasaan
aku/ diriku dalam diri seseorang.[3]
Kepribadian guru terbentuk atas
pengaruh model kelakuan seperti yang
diharapkan oleh masyarakat dan sifat pekerjaanya. Guru harus menjalankan
peranannya menurut kedudukannya dalam berbagai situasi sosial. Kelakuan yang
tidak sesuai dengan peranan itu akan mendapat kecaman dan harus dihindari.
Sebaliknya, kelakuan yang sesuai akan dimantapkan dan norma- norma kelakuan
akan internalisasikan dan menjadi suatu aspek dari kepribadiannya.
Dalam situasi kelas, guru menghadapi
sejumlah murid yang harus dipandang sebagai “anaknya”. Sebaliknya, murid- murid
akan memperlakukannya sebagai bapak guru dan ibu guru. Berkat kedudukannya,
maka guru didewasakan, di- “tua”- kan sekalipun menurut usia yang sebenarnya
belum pantas menjadi “orangtua”. Orang tua murid akan memandang guru sebagai “partner”
yang setaraf kedudukannya dan mempercayakan anak mereka untuk diasuh oleh guru.
Dalam menjalankan perannanya sebagai guru, ia lambat laun membentuk
kepribadiannya. Ia diperlakukan oleh lingkungan sosialnya sebagai guru dan ia
akan bereaksi sebagai guru pula. Ia menjadi guru karena diperlakukan dan
berlaku sebagai guru (Nasution, 2009: 103-104).[4]
Menurut Al- Abrasyi, bahwa guru
(dalam ajaran Islam)harus memiliki sifat- sifat Seperti zuhud, berpenampilan
menyenangkan, berjiwa besar, tidak ria, tidak memendam rasa dengki dan , iri
hati, tidak menyenangi permusuhan, antara perkataan dan perbuatan sesuai, tidak
malu mengatakan ketidaktahuan, bijaksana, tegas dalam perkataan dan
perbuatan(tetapi tidak kasar), rendah hati, lemah lemut, pemaaf, sabar, tidak
merasa rendah diri, bersifat kebapakan, dan mengetahui karakter murid.
Menurut mahmud junus yang bersumber
dari Ibnu Sina antara lain guru hendaklah berjiwa tenang, tidak bermuka masam,
tidak mengolok- olok dihadapan anak didik, dan sopan santun.[5]
C.
Ciri- ciri
Stereotif Guru
Stereotip guru adalah hal- hal yang
sering dilakukan oleh para guru. Stereotip juga bisa diartikan sebagai sifat
kepribadian. Yang berkembang dimasyarakat adalah adanya suatu anggapan bahwa
yang stereotip selalu dianggap benar, sedangkan yang di luar stereotip dianggap
salah.
Ciri- ciri stereotip guru yaitu:
1.
Guru tidak
memperlihatkan kepribadian yang fleksibel. Ia cenderung mempunyai pendirian
yang tegas dan mempertahankannya. Ia kurang terbuka bagi pendirian lain yang
berbeda. Karena sifat ini, ia sulit melihat kebenaran pendapat orang lain atau
cara orang lain memecahkan suatu masalah. Guru tidak suka diberi pertanyaan
oleh murid, apalagi menerima jawaban yang berbeda dengan guru.
2.
Guru pandai
menahan diri. Ia hati- hati dan tidak segera menceburkan diri dalam pergaulan
dengan orang lain. Karena itu, ia tidak dapat memberikan partisipasi penuh
dalam kegiatan sosial.
3.
Guru cenderung
menjauhkan diri karena hambatan batin untuk bergaul secara intim dengan orang
lain. Orang lain juga sukar untuk mengadakan hubungan akrab dengan guru.
4.
Guru berusaha
menjaga harga diri dan merasa keterikatan kelakuannya pada norma- norma yang
berkenaan dengan kedudukannya. Baginya, guru itu orang terhormat dan karena itu
ia harus berkelakuan sesuai dengan kedudukan itu.
5.
Guru cenderung
untuk bersikap otoriter dan ingin menggurui dalam diskusi. Sebagai orang yang
serbatahu dalam kelas, ia akan memperlihatkan sikap yang sama di luar kelas.
6.
Guru cenderung
bersikap konservatif, baik dalam pendiriannya maupun dalam hal- hal lahiriah,
seperti mengenai pakaian. Sebagai guru,
ia bertugas menyampaikan kebudayaan nenek moyang kepada generasi muda. Dengan
demikian, generasi muda dapat turut mempertahankan dan mengawetkan kebudayaan.
7.
Guru pada
umumnya tidak didorong oleh motivasi yang kuat untuk menjadi guru. Seseorang
memasuki lembaga pendidikan guru sering karena pilihan lain sudah tertutup.
8.
Guru pada
umumnya tidak mempunyai ambisi yang kuat untuk mencapai kemajuan.
9.
Guru lebih
cenderung mengikuti pimpinan daripada memberi pimpinan.
10.
Guru dipandang
kurang agresif dalam menghadapi berbagai masalah.
11.
Guru cenderung
memandang guru- guru sebagai kelompok yang berbeda dengan golongan pekerja
lainya. Kecenderungan ini turut menimbulkan stereotip guru.
12.
Guru
menunjukkan kesediaan untuk berbakti
dan berjasa( Nasution, 2009:104-105)
D.
Guru Masa Depan
Guru masa depan adalah guru yang memiliki kemampuan dan
keterampilan bagaimana dapat menciptakan hasil pembelajaran secara optimal.
Selanjutnya memiliki kepekaan dalam membaca tanda- tanda zaman, serta memiliki
wawasan intelektual dan berpikiran maju, tidak pernah merasa puas dengan ilmu
yang ada padanya.
1.
Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas. Program kerja
tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat
dokumen pembelajaran seperti Program semaster, Satuan Pelajaran, LKS, dan
sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran
yang dilakukan berhasil maksimal dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang
dilakukan dan sudah terprogram secara baik.
2.
Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan yang
berkenaan dengan pola pembelajaran termasuk di dalamnya metode mengajar, media
pembelajaran, sistem dan alat evaluasi. Secara individu maupun bersama- sama
mampu untuk mengubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil
maksimal. Dengan mengubah pola baru pembelajaran maka akan berdampak kepada
hasil yang lebih maksimal.
3.
Motivator, artinya guru masa depan mampu memiliki motivasi untuk terus
belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak
didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya.
4.
Capable, artinya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan
ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola
proses pembelajaran secara efektif.
5.
Developper, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri dan menularkan
kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru
masa depan haus akan menimba keterampilan, dan bersikap peka terhadap
perkembangan Iptek.[6]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Menurut Gordon W. Allport, kepribadian adalah organisasi dinamis
dalam diri individu sebagai sistem psiko-motorik yang menentukan caranya yang
unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Ada 3 faktor yang
menentukan dalam perkembangan kepribadian :
a.
Faktor bawaan:
Unsur ini terdiri dari bawaan genetic yang menentukan diri fisik
primer (warna kulit, mata dll) selain itu juga kecenderungan – kecenderungan
dasar misalnya kepekaan dan penyesuaian diri.
b.
Faktor
lingkungan
Faktor lingkungan seperti sekolah, atau lingkungan sosial/ budaya
seperti teman, guru dan lain- lain dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian.
c.
Interaksi
bawaan dan lingkungan
Interaksi yang terus menerus antara bawaan dan lingkungan
menyebabkan timbulnya perasaan aku/ diriku dalam diri seseorang.
Ciri- ciri stereotip guru yaitu:
1.
Guru tidak
memperlihatkan kepribadian yang fleksibel. Ia cenderung mempunyai pendirian
yang tegas dan mempertahankannya. Ia kurang terbuka bagi pendirian lain yang
berbeda. Karena sifat ini, ia sulit melihat kebenaran pendapat orang lain atau
cara orang lain memecahkan suatu masalah. Guru tidak suka diberi pertanyaan
oleh murid, apalagi menerima jawaban yang berbeda dengan guru.
2.
Guru pandai
menahan diri. Ia hati- hati dan tidak segera menceburkan diri dalam pergaulan
dengan orang lain. Karena itu, ia tidak dapat memberikan partisipasi penuh
dalam kegiatan sosial.
3.
Guru cenderung
menjauhkan diri karena hambatan batin untuk bergaul secara intim dengan orang
lain. Orang lain juga sukar untuk mengadakan hubungan akrab dengan guru.
4.
Guru berusaha
menjaga harga diri dan merasa keterikatan kelakuannya pada norma- norma yang
berkenaan dengan kedudukannya. Baginya, guru itu orang terhormat dan karena itu
ia harus berkelakuan sesuai dengan kedudukan itu.
Guru masa depan adalah guru yang memiliki kemampuan dan
keterampilan bagaimana dapat menciptakan hasil pembelajaran secara optimal.
Selanjutnya memiliki kepekaan dalam membaca tanda- tanda zaman, serta memiliki
wawasan intelektual dan berpikiran maju, tidak pernah merasa puas dengan ilmu
yang ada padanya.
DAFTAR
PUSTAKA
Febrini, Deni. Bimbingan
Konseling . Yogyakarta : Teras. 2011.
Isjoni, Gurukah Yang
dipersalahkan (Menakar Posisi Guru di Tengah Dunia Pendidikan Kita). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2006.
[1] https:fdj-indrakurniawan.blogspot.com
[1] I
wayan Suwatra, Sosiologi Pendidikan (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2014
[1] Moh. Rosyid, Guru (Kudus : STAIN Press Kudus, 2007
[1] Deni Febrini, Bimbingan
Konseling (Yogyakarta : Teras. 2011)hal. 34.
[2] Isjoni, Gurukah
Yang dipersalahkan (Menakar Posisi Guru di Tengah Dunia Pendidikan Kita),
Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006. Hal 76-78.
[3]
https:fdj-indrakurniawan.blogspot.com
[4] I wayan
Suwatra, Sosiologi Pendidikan (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2014) hal. 45
[5] Moh. Rosyid, Guru
(Kudus : STAIN Press Kudus, 2007)hal. 104.
Rabu, 04 Maret 2015
RESUME BUKU ULUMUL QUR'AN
ULUMUL QUR'AN
BAB 1
SEPUTAR ULUMUL QUR'AN
BAB 1
SEPUTAR ULUMUL QUR'AN
A. Pengertian Ulumul Qur'an
Ulumul Qur'an adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al Qur'an. Misalnya: Asbabun Nuzul, Makiyah dan Madaniyah, Nasakh dan Mansukh, I'jazul Qur'an dll.
Secara lengkap Al Qur'an memuat lima unsur pengertian, yaitu :
1. Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
2. Yang tertulis dalam mushaf
3. Yang dinukil (disalin) secara Mutawattir (diketahui oleh orang banyak)
4. Yang tercatat ibadah bagi orang yang membacanya
5. Yang dimulai dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas
Pengertian Al Qur'an menurut istilah menyebutkan dua unsur, yaitu :
1. Menurut Ahli Kalam Al Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
2. Mmmanurut Ahli Ushul al qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang dimulai dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas
Menurut Etimologi Al Qur'an Disampaikan Oleh Lima Tokoh, Yaitu
1. Al Lihyani yang mengatakan bahwa Al Qur'an berasal dari kata Qoroa yang berarti bacaan
2. Az Zujaj mangatakan bahwa Al Qur'an berasal dari kata Al Qor'u yang berarti Al Jam'u yaitu kumpulan dari kebenaran
3. Abu Musa Al Asy'ari mengatakan bahwa Al Qur'an berasal dari kata Qorona yang berarti mengumpulkan kebenaran
4. Al farra' yang mengatakan bahwa Al Qur'an berasal dari kata Al Qorinah yang berarti bukti-bukti kebenaran
5. Asy Syafi'i yang mengatakan bahwa Al Qur'an tidak diambil dari kata apapun (isim murtajal) yang berarti Al Qur'an adalah nama kitab suci yang diturunkan kepada nabi muhamad)
B. Obyek Pembahasan Ulumul Qur'an
Berikut ini adalah tokoh-tokoh yang membagi obyek pembahasan Ulumul Qur'an
1. Al Jumhur; mengatakan bahwa obyek dari ulumul qur'an adalah membahas tentang ilmu pengetahuan islam dalam bahasa alam
2. Imam Suyuti; mengatakan bahwa obyek dari ulumul qur'an adalah pengetahuan umum
3. Imam Az Zarkoni membagi obyek pembahasan ulumul qur'an menjadi dua, yaitu :
a. Muaudli'i yaitu segala sesuat yang tertulis dalam Al Qur'an
b. Imami yaitu ilmu-ilmu mengenai kehidupan sehari-hari misalnya fisika, kimia dan lain-lain
4. Hasbi Ash Shiddiqi membagi obyek pembahasan Ulumul Qur'an menjadi delapan macam yaitu:
a. Nuzulul Qur'an
b. Tarkibul Qur'an
c. Pengumpulan Al Qur'an
d. Qiro'atul Qur'an
e. Kitabatul Qur'an
f. Tafsilul Qur'an
g. I'jazul Qur'an
h. Nasakh dan Mansukh
5. Muhammad Bin Ali Ash Shabuni membagi obyek pembahasan Ulumul Qur'an menjadi :
a. Asbabun Nuzul
b. Tarkibul Qur'an
c. Pengumpulan Al Qur'an
d. Qiro'ah
e. Kitabatul Qur'an
f. Tarkibul Qur'an
g. Makiyyah dan Madaniyyah
h. Nasakh dan Mansukh
i. Muhkamad dan Mutasyabihat
C. Hikmah Mempelajari Ulumul Qur'an
1. Alatut Tafsir, yaitu Ulumul Qur'an dapat dipakai sebagi alat menunjang dalam penafsiran ayat
2. Alatul Hujjah, yaitu Ulumul Qur'an dapat dijadikan alat dalam menyampaikan dalil kebenaran Al Qur'an
3. Alatut Tafhim, yaitu Ulumul Qur'an dapat dijadikan alat untuk memahamkan dalam petunjuk, iman dan taqwa.
1. Alatut Tafsir, yaitu Ulumul Qur'an dapat dipakai sebagi alat menunjang dalam penafsiran ayat
2. Alatul Hujjah, yaitu Ulumul Qur'an dapat dijadikan alat dalam menyampaikan dalil kebenaran Al Qur'an
3. Alatut Tafhim, yaitu Ulumul Qur'an dapat dijadikan alat untuk memahamkan dalam petunjuk, iman dan taqwa.
A. Pengertian Sejarah Ulumul Qur'an
Yang dimaksud sejarah Ulumul Qur'an adalah riwayat perkembangan ulumul Qur'an dari masa ke masa. Misalnya periodesasi perkembangan Ulumul Qur'an ditinjau dari zaman Rasulullah, zaman sahabat, tabi'in, tabi’ut tabi’in, dapat pula perkembangan ulumul Qur'an dilihat dari abad ke abad.
B. Perkembangan Sejarah Ulumul Qur'an
Menurut Hasby ash-Shiddiqi perkembangan ulumul Qur'an dibedakan atas:
1. Zaman Rasulullah yaitu zaman Nabi Muhammad setelah diutus menjadi Rasul yaitu usia 40 tahun – 63 tahun. Yaitu di Mekah 13 tahun, di Madinah 10 tahun. Ulumul Qur'an lahir pada abad 3 hijriyah, ulumul Qur'an baru lahir karena munculnya seorang tokoh yaitu Muhammad bin Khalaf al Marzuban (bapak ulumul Qur'an) dengan kitabnya yang berjudul “al-Hawi fi Ulumul Qur'an” karena dianggap memuat disiplin ilmu.
a. Harus punya obyek pembahasan
b. Metodologi
c. Sistematika
Metode pembelajaran pada zaman Rasul:
a. Syafahi: penuturan secara lisan/dari mulut ke mulut.
b. Talqin: individual
Zaman Rasulullah ulumul Qur'an belum lahir karena:
a. Masalah-masalah dapat diatasi Rasul.
b. Tokoh-tokoh ulama masih bersifat parsial dalam menyampaikan gagasannya, misalnya hanya mengupas nuzulul Qur'an, Makiyah Madaniyah, nasakh mansukh.
2. Periode Sahabat
Sahabat adalah orang yang hidup zaman Rasulullah dan beriman misalnya Abdullah bin Abbas, Zaind bin Tsabit, Abu Musa al-Asyar.
a. Zaman khalifah Usman
- Beliau menyeragamkan bacaan.
- Tulisannya harus ditulis dengan model khalifah Usman
b. Zaman khalifah Ali
Al-Qur'an ditafsirkan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab. tokoh zaman sahabat adalah 4 sahabat besar. Abdullah bin Abbas, Zaid bin Tsabit penulis wahyu Abdullah bin Asmi Abu Musa al-Asy'ari Abdullah bin Umar Ubay bin Ka’ab
3. Zaman Tabi’in
Tabi’in adalah murid-murid sahabat, mereka hidup pada zaman sahabat. Adapun para tabi’in, antara lain: Mujahid Qatadah Ato' binYasar Zaid bin Aslam Ikrimah
Adapun generasi selanjutnya namanya tabiut tabi'in, generasi-generasi selanjutnya adalah murid-murid mereka. dalam masa 100 tahun akan dimunculkan seorang tokoh, sehingga ada muncul pembagian periode yang lain menurut tinjauan abad ke abad.
Tabiut tabi'in yang terkenal adalah Anas bin Malik yang diikuti oleh iman Abu Hurairah.
Tokoh tabi’in yaitu Malik bin Anas, kemudian dari generasi ke generasi dipegang oleh para ulama:
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الاَنْبِيَاءِ (الحديث)
اِنَّمَا يَخْشَ اللهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءْ (الاية)
C. ??????
D. Tinjauan Sejarah dari Abad ke Abad
Pada abad ke-II yaitu mufassirin (مفسرين)
Diantara ulama' abad ke-II yang menyusun tafsir
1. Sufyan bin Ayainah
2. Syu’ban bin al-Hajjah
3. Waki’ bin al-Jarah
Tafsir dibagi menjadi 2, yaitu:
1. بالمأثور (نقلى) : dari Rasul dan sahabat
2. ياارأى (اجتهادى) : dari sahabat
Pada abad III H, para ulama mulai menyusun beberapa ilmu Qur'an adalah:
1. Muhammad bin Khalaf al-Marzuban menyusun kitab al-Hawi fi Ulumil Qur'an (bapak ulumul Qur'an yang pertama).
2. Ali bin al-Madini menyusun ilmu Asbabun Nuzul
3. Muhammad bin Ayyub al-Dhirris menyusun ilmu Makki wal Madani
4. Abu ubaid al-Qasim bin Salam, menyusun ilmu Nasikh wal Mansukh dan Ilmu Qira'at.
Motivasi
hikmahnya menambah iman dan taqwa.®1. Surat Hud ayat 120
Allah memberikan nikmat kepada orang mukmin®2. Surat Imron 164
لقد منَّ الله على المو منين ادتَعَثَ فيهم رسولا
فى كُلِّ رَأَسِ مِاةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّ دُها
Dalam seratus tahun ada orang yang memperbaruhinya.
A. Pengertian
Nuzul diambil dari kata نَزَلَ-يَنْزِلُ yang diartikan turun, jika dibedakan maka menjadi “turunnya” sehingga artinya turunnya al-Qur'an.
Sedangkan menurut istilah adalah:
1. Ar-Raghib al-AShfihani mengatakan bahwa نُزُوْل artinya meluncur dari atas ke bawah yaitu dari lauhul mahfud ke dunia melalui Nabi Muhammad dengan transit/singgah dari baitul izzah sebelum turun kepada Nabi. Jadi maksudnya Allah menurunkan wahyu berupa al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW.
2. Sedangkan menurut iman Zama’syar'i nuzul berarti
اِبْتَمَاعُ اَيَةٍ اَيَةً اُخْرَى
Menurut sebagai ulama Qur'an diturunkan secara تَدَرِجُ yaitu berangsur-angsur.
B. Pentahapan Turunnya Al-Qur'an
Pentahapan turunnya ada 3 yaitu:
1. Al-Qur'an berada di lauh mahfud yaitu tempat yang terpelihara sebagai aslinya al-Qur'an (al-Buruj ayat 21-22).
2. Al-Qur'an di Bait al-Izzah, yakni rumah perkasa.
3. Al-Qur'an berada di dunia yaikni diterima oleh Rasulullah baik di Mekah dan Madinah.
Di Mekah diturunkan selama 13 tahun, 5 bulan, 13 hari.
Di Madinah diturunkan selama 9 tahun, 9 bulan, 9 hari.
Hadits riwayat hakim dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas ra dari Nabi Muhammad SAW. bersabda.
فُصِّلَ الْقُرْانُ مِنْ الذِّكْرِ فَوُ ضِعَ فِى بَيْتِ الْعِزَّةِ مِنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَجَعَلَ جَبْرِيْلُ يُنَزَّلُ بِهِ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسِلَّمَ
Artinya:
“Al-Qur'an itu dipisahkan dari pembuatannya lalu diletakkan di baitul izzah dari langit dunia, kemudian mulailah malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW.”. (HR. Hakim dari ibnu Jubair dari ibnu Abbas ra).
C. Khilafiyah Ulumul
Al-Baqarah: 185 al-Qur'an turun pada bulan Ramadhan tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan. Al-Qadar ayat 1: al-Qur'an diturunkan pada malam lailatur qodar adalah malam 10 akhir yang ganjil bulan Ramadhan, yaitu: 21, 23, 25, 27, 29. Diturunkannya ayat ini dimaksud untuk memberikan bonus kepada umat Nabi Muhammad yang usianya rendah/pendek 84 tahun 3 bulan yaitu malam 100 bulan.
1. Imam al-Hakim, hadits yang menentukan titik terang.
Al-Qur'an diturunkan dari lauh mahfud ke langit dunia yaitu baitul maqdis kemudian malaikat Jibril menurunkan ke Muhammad (al-Buruj, 21-22)
2. Hadits Ibnu Abbas, al-Qur'an diturunkan sekali pada malam lailatul qodar dan al-Qur'an bagian lain turun selama 20 tahun (20 lailatur qodar) kemudian diturunkan oleh malaikat Jibril secara berangsur-angsur.
3. Al-Qur'an turun sebagian pada malam lailatur qodar untuk yang pertama kali, yang lainnya tidak pada malam lailatul qodar, riwayat Imam Baihaqi.
Tiga tokoh berbeda pendapat.
1. Imam Sayuti
2. Imam Mawardi yang memegangi hadits riwayat Ibnu Abbas.
3. Imam Asy’ya’bi: al-Qur'an turun yang pertama paad malam lailatul qodar sedangkan yang lainnya tidak (bebas).
D. Hikmah Mempelajari Nuzulul Qur'an
1. اِبْتِنَّص : memberikan wawasan yang baru tentang nuzulul Qur'an.
2. Nuzul Qur'an sebagai alat penunjang dalam menafsirkan ayat al-Qur'an.
3. Nuzulul Qur'an dapat mengetahui hal-hal yang gaib dan kebesaran dari al-Qur'an.
4. Menunjukkan berbagai data dan fakta serta argumentasi yang membuktikan kebesaran kekuasaan Allah SAW. dan keluasan ilmu-Nya serta kekuatan kehendak dan kebijaksanaan-Nya.
5. Menunjukkan kehebatan dan kemukjizatan al-Qur'an, yaitu turunnya secara bertahap-tahap berbeda dengan kitab suci yang lain.
BAB IV
ASBABUN NUZUL
ASBABUN NUZUL
A. Pengertian Asbabun Nuzul
1. Menurut bahasa “asbabun” berasal dari kata sababun yang berarti sebab. Kalau dijamakkan menjadi “asabun” artinya beberapa sebab. Jadi adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat al-Qur'an.
2. Asbabun nuzul menurut Hasbi as-Shiddiqi.
مَانَزَلَتْ....
Adapun peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat dan menjawab dari sesuatu itu.
1. Karena peristiwa.
2. Karena pertanyaan yang harus dijawab Rasulullah.
3. Karena ada penjelasan hukum.
B. Pembagian Asbabun Nuzul
1. Peristiwa yang melatarbelakangi peristiwa asbabun nuzul:
a. Peristiwa yang menimpa pada diri Abdillah bin Ubayyin seorang tokoh munafiq, kemudian turun surat al-Baqarah ayat 14).
b. Peristiwa yang diangkat dari salinan al-Farisi adalah orang Ahli Kitab sebelum Muhammad lahir. Dia mengetahui adanya Rasulullah melalui kitab Injil dan dia menemui Rasulullah dengan mendukung Rasulullah, namun Nabi bingung karena biasanya Ahli Kitab memusuhi Nabi (surat al-Baqarah ayat 62) untuk membenarkan Salman al-Farisi adalah orang-orang beriman.
c. Abdullah bin Sabah adalah orang Ahli Kitab yang kontra dengan Rasul, sedangkan yang pro dipimpin Abdullah bin Salam (al-Baqarah ayat 79), menyatakan bahwa orang ahli kitab yang kontra Nabi berani mengubah kitab al-Qur'an maka mereka terancam neraka well/kesusahan yang besar.
2. Menjawab Pertanyaan
al-Isra’: 85 (tentang ruh)®a. يَسْعَلُوْ نَكَ عَنِ الرُّوْحِ
قُلْ الرُّوْحِ مِنْ اَسْرِرَبِّى
al-Baqarah: 222 (tentang darah haid)®b. يَسْعُلُوْنَكَ عِنِ الْمَحِيْضُ
قل هوادى فاعتر لو النساء
c. Al-Baqarah 219 (tentang khomer dan maisir)
عَنِ الْخَمرِ وَالْمَيْسِرْ قُلْ فِيْهِمَا اِثمُ كِبِيْرٍ و منا فع للناس
3. Menjelaskan hukum ada 3:
a. Hukum menuduh selingkuh, bila tidak ada saksi maka penuduh akan di hukum 80 kali dera. Contoh: Aisyah dituduh berselingkuh dengan Bisufyana maka turunlah (ayat 4 surat an-Nur).
b. Rofas Khumar adalah berkumpulnya suami dan istri pada malam bulan Ramadhan. Surah al-Baqarah: 187.
c. Salamah bin Saqar menuduh istrinya jelek seperti punggung ibunya. Kata Rasul maka Salamah bin Saqar terkena hukuman qifarat yaitu puasa 2 bulan/memberi makan 60 orang.
C. Hikmah Asbabun Nuzul
1. للاِسْتِبُصَارْ memberikan wawasan yang luas tentang asbabun nuzul.
2. Asbabun nuzul merupakan alat penunjang ilmu tafsir, ilmu dzakiikil id asbabun nuzul merupakan suatu metode yang paling baik dari al-Qur'an.
طَرِيْقٍ قُوْى فِ فَهُمِ مَعَا فِ الْكِتَابُ
3. Asbabun nuzul dipelajari akan menambah Imtaq di kaum Muslimin.
4. Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara' terhadap kepentingan umum dalam melengkapi segala peristiwa.
5. Mengethui seba nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna al-Qur'an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab nuzulnya. (Hal. 110-112).
A. Pengertian I’jazul Qur'an
1. Menurut bahas i’jaz diambil dari kata اَعْجَزَ yang berarti melemahkan musuh. Dengan kata lain mengalahkan. I’jazul Qur'an berarti mengalahkan al-Qur'an terhadap musuh Nabi yaitu orang-orang kafir yang ada di Mekah. Karena orang kufar menganggap al-Qur'an buatan Muhammad pdahal tidak, maka turunlah wahyu yang meluruskan kejadian ini.
2. Menurut istilah i’jazul Qur'an adalah lemahnya manusia dalam menghadapi tantangan al-Qur'an dengan cara membuat karangannya yang seperti al-Qur'an. bisa menyingkap masa lalu.
Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa yang keluar dari para Nabi dan Rasul, yang tidak bisa dipelajari manusia.
Contoh:
a. نَقَتُ الله : untanya Nabi Sholeh yang lahir dari batu, jangan sekali-kali kamu meyakininya.
b. نَصَ مُوْسَ : tongkat Nabi Musa. Tongkat itu kalo dilemparkan menjadi ular.
c. Nabi Isa dapat menyembuhkan penyakit kusta dan belang.
d. Nabi Muhammad adalah al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar.
1) Abu Bakar al-Banillani.
2) Abu Nauval
B. Pembagian Nilai-Nilai Pemukjizatan Qur'an
Ada 3 tokoh yang diangkat dalam pembahasan ini:
1. Abu Bakar al-Baqilani: Nilai i’jazul Qur'an ada 3 macam, yaitu:
a. Ikhbalul Hujuub artinya memberitakan barang-barang yang gaib. Membertakan/menginformasikan adanya hari bangkit, adanya surga-neraka.
b. Mukjizat Nabi Muhammad yang paling besar karena dapat mengalahkan kufar Mekah. Contoh: Isra’ mi’raj, ketika Nabi berdagang di syam dinaungi awan, mengalirnya air pada jari-jari Nabi ketika habis perang sahabat ingin minum beserta anaknya, kemudian tangannya dimasukkan ke ember dan keluar air dan diminum oleh prajurit perang, anak dan kembala-kembala.
2. Abdur Rozak an-Naufal: nila ijaz ada 4 macam, yaitu:
a) Al-Qur'an mengandung ilmu pengetahuan yang diperlukan oleh manusia. namanya المي;
b) تَسُرِحِيٌ (Pembinaan hukum Islam);
c) اَدَبِيٌ/بَلْ فِيٌ (bernilai balaqah);
d) mengandung nilai IPTEK/عَ دَ رِيَ sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Qodi Iyad قافى اِيَاذَ: nilai i’jaz Qur'an, memuat:
a. Nilai bagusnya lafalnya al-Qur'an.
b. Nilai bagusnya susunan kalimat al-Qur'an.
c. Benarnya ramalah al-Qur'an terhadap masa yang akan datang.
d. Benarnya ramalan al-Qur'an terhadap masa lampau.
e. Benarnya ramalah al-Qur'an terhadap masa yang lampau.
Abu Bakar al-Baqilani dalam menjelaskan segi-segi balihul Qur'an ada 10 macam. Diberi contoh:
1. I’jaz اِلجَازْ: ungkapan yang ringkas.
2. اسعلرة: pinjaman kata lain: مُسْتَعَرْلَهُ : وَسْعَلَ وَرَعَسُ شَيْدُ شَيْبَهُ مُسْتَعَرْ
3. تضشْبِةْ: perumpamaan/امسل ول قدمن
4. اَتْلَ عُمْ: kepantasan مُسْتَعَرَ مِنْهُ
5. اَلْفَلَسِلْ: pesajakan
6. اَتَّدَامُسْ : ungkapan sejenis
7. اَتَّشْ رِيْفِ : ungkapan variatif
8. اِتِبَسْ : memahami yang tersirat
9. شَهَدْ مُبَلَ هَةْ : bentuk yang menyangatkan
10. حُسُنَلُ بَيَانُ : penjelasannya bagus tidak seronok/tidak porno.
C. Manfaat I’jazul Qur'an
1. Memberi wwasan yang luas tentang nilai-nilai kemukjizatan Qur'an.
2. Papa menjadi pembantu/alat pembantu dalam menafsirkan ayat Al-Qur'an. الم: Allah menurunkan al-Qur'an pada Muhammad melalui Jibril.
3. Menambah mantabnya iman dan takwa seseorang. Hud ayat 120.
A. Pengertian Fawatihush Shuwar
Menurut bahasa fawatih adalah jamak dari kata fatihah, yang berarti pembukaan atau permulaan atau awalan. Sedangkan kata ash-shuwar adalah jamak dari kata ash-surah, sekumpulan ayat-ayat Al Qur'an yang mempunyai awalan dan akhiran. Fawatihush Shuwar disebur juga dengan Awailul Shuwar yang merupakan bentuk jamak dari kata Awwalun yang berarti pertama-pertamanya surat.
B. Pembagian Fawatihush Shuwar
1. Menurut jumlah hurufnya, Fawatihush Shuwar bisa terdiri atas satu huruf seperti ن, dua huruf sepertiحم , tiga huruf sepertiالر , empet huruf seperti المص, dan lima huruf seperti كهيعص
2. Menurut keadaan awal surat, Fawatihush Shuwar bisa terbentuk dari lafal Pujian, Amar, Syarat, Panggilan, Ta'lil, Qasam, Huruf Hijaiyah, Do'a, Tanya dan Berita.
C. Tinjauan-Tinjauan Fawatihush Shuwar
Menurut Mukhtar Yahya, manfaat awal surat ada lima yaitu :
1. Untuk menantang kuffar makkah .
2. Untuk pengenalan huruf hijaiyah
3. Untuk nama surat
4. Untuk menyinggung/mengenal isi surat
5. kependekan dari kata
D. Hikmah Mempelajari Fawatihush Shuwar
Manfaat mempelajari fawatihush shuwar paling tidak ada tiga manfaat yaitu :
1. Untuk memberikan wawasan yang luas tentang Fawatihush Shuwar
2. Untuk mengetahui nilai-nilai kemukjizatan Al Qur'an
3. Memahami nilai-nilai balaghoh dalam Al Qur'an
Langganan:
Postingan (Atom)


